Menu

Mode Gelap
 

Artikel · 5 Okt 2021 12:49 WIB ·

Tradisi Rebo Wekasan di Indonesia


 tradisi rebo wekasan di Kudus Jawa Tengah. Foto radar kudus Perbesar

tradisi rebo wekasan di Kudus Jawa Tengah. Foto radar kudus

jigang.id – Tradisi Rebo Wekasan di Indonesia. Istilah tentang Rebo Wekasan, bagi sebagian orang mungkin masih terasa asing bagi, namun Rebo Wekasan telah menjadi kebudayaan dan tradisi sekaligus kepercayaan bagi sebagian masyarakat serta umat Islam di Nusantara.

Di laman NU Online menjelaskan bahwa, Rabu terakhir bulan Safar di bumi Nusantara disebut dengan istilah Rebo Wekasan, rebo kasan, rebo pungkasan, atau istilah lain yang merujuk pada maksud yang sama yaitu hari Rabu akhir di bulan Safar.

Jika di dalam bahasa Arab terkenal dengan istilah Arba Mustamir.

Terdapat beberapa amalan yang biasa dilakukan pada hari tersebut yang mencakup salat, zikir, doa, dan menyebut asma Allah atau ayat-ayat al-Quran, sebagian orang menyebutnya dengan ayat Selamat.

Beberapa amalan tersebut dilakukan sebagai bentuk doa dan permohonan kepada Allah SWT dengan tujuan agar terhindar dari berbagai macam musibah dan cobaan.

Keputusan Bahtsu Masail NU tentang Rebo Wekasan

Meski demikian, keputusan musyawarah NU Jawa Tengah tahun 1978 di Magelang menegaskan bahwa shalat khusus Rebo Wekasan hukumnya haram, kecuali jika diniati salat sunah muthlaqah atau niat salat hajat. Keharaman dari salat khusus Rebo Wekasan tersebut karena tidak ditemukan di dalam al-Quran dan hadis, bahkan ijma para ulama.

Hari Rabu pungkasan di bulan Safar juga dipercaya sebagian masyarakat sebagai hari pertama Nabi Muhammad jatuh sakit dan berlangsung selama 12 hari berturut-turut hingga Rasulullah wafat. Selain itu, sebagian orang ahli makrifat termasuk orang yang ahli mukasyafah mengatakan setiap tahun Allah menurunkan bala (bencana) yang berjumlah 320.000. Kesemuanya diturunkan pada hari Rebo yang terakhir di bulan Safar.

Asal Usul Rebo Wekasan

Laman tirto.id menjelaskan tentang asal usul dari Rebo Wekasan. Asal Usul Tradisi Rebo Wekasan Dalam buku Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19 (1984) karya Karel A. Steenbrink dijabarkan bahwa tradisi ini sudah muncul sejak awal abad ke-17. Khususnya di Aceh, Sumatera, dan Jawa, juga di sebagian wilayah Riau, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, bahkan Maluku. Bagi warga Muslim di Aceh Selatan, istilah Rebo Wekasan dikenal sebagai tradisi “makmegang” yang diadakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.

Ritual tolak bala ini berupa doa bersama di tepi pantai yang dipimpin oleh seorang teungku dan diikuti oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan sebagian warga. Bergeser ke Pulau Jawa, umumnya tradisi Rebo Wekasan lebih banyak dilakukan, terutama oleh masyarakat di tepi pantai. Daerah-daerah yang melakukan tradisi ini kebanyakan adalah daerah pesisir, yang relatif lebih dulu, kuat, dan kosmopolit keislamannya dibanding daerah pedalaman.

Sementara cara masyarakat dalam menyikapi Rebo Wekasan di masing-masing daerah di Jawa berbeda-beda. Contohnya, sebagian warga Muslim di Banten dan Tasikmalaya juga beberapa daerah lainnya di Jawa Barat, yang biasanya menunaikan salat khusus bersama di pagi hari pada Rabu terakhir bulan Safar itu.

Selain di Jawa Barat, Di Bantul, Yogyakarta, tepatnya di Desa Wonokromo menerapkan dengan pembuatan lemper raksasa yang nantinya dibagi-bagikan kepada warga atau orang-orang yang hadir dalam acara itu.

Sedangkan di ujung timur Jawa, Banyuwangi, diadakan tradisi petik laut untuk memperingati Rebo Wekasan oleh sebagian masyarakat pesisir di Pantai Waru Doyong. Kemudian di Banyuwangi, ada pula komunitas warga yang melakukan tradisi tolak bala dengan makan nasi yang membuatnya secara khusus, bersama-sama di tepi jalan.

Sementara sebagian warga Muslim di Kalimantan Selatan menyikapi Arba Mustamir atau Rebo Wekasan dengan beberapa cara, di antaranya adalah dengan salat sunah disertai doa tolak bala, selamatan kampung, tidak bepergian jauh, tidak melanggar pantangan, hingga mandi Safar untuk membuang sial.

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Abdullah bin Umar Periwayat Hadis Terbanyak Setelah Abu Hurairah

20 Oktober 2021 - 06:15 WIB

Sahabat Nabi Muhammad

6 Syarat Sah Melaksanakan Shalat Jumat

18 Oktober 2021 - 07:05 WIB

Sejarah Maulid Nabi

Asbabun Nuzul Surat al-Kahfi atau Sebab Turunnya Surat al-Kahfi

15 Oktober 2021 - 08:47 WIB

Asmaul husna

7 Keutamaan Surat al-Kahfi Saat Dibaca di Hari Jumat

14 Oktober 2021 - 22:35 WIB

Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Indonesia

9 Oktober 2021 - 18:33 WIB

Sejarah Maulid Nabi

Sejarah Maulid Nabi Menurut Sejarawan al-Sakhawi (902 H)

9 Oktober 2021 - 07:40 WIB

Sejarah Maulid Nabi
Trending di Artikel