Menu

Mode Gelap
 

Sangu · 11 Jul 2021 01:12 WIB ·

Pentingnya Literasi Keuangan


 Pentingnya Literasi Keuangan Perbesar

Presenstasi Pertumbah ekonomi

JIGANG.ID – Literasi keuangan? Wah, apa ini. Hmmm. 

Sebelum membahas itu, sayang ingin cerita di sekitar lingkungan saya sendiri, masih banyak orang-orang yang tidak percaya atau takut dengan sistem keuangan, mulai dari perbankan, baik konvensional maupun syariah dan jasa-jasa penyimpan uang yang lainnya. 

Dari pengamatan sederhanan itu saja, kita bisa mengambil kesimpulan sementara bahwa tingkat literasi keuangan di Indonesia, masih sangat minim. Kita buktikan nanti yang di paragraf selanjutnya. 

Sebelum membahas sampai ke detail-detail seperti itu, kita rampungkan dulu tentang pengertian literasi keuangan.

Apa sih Literasi Keuangan itu?

Pengertian atau definisi dari financial literacy atau literasi keuangan adalah pengetahuan dan juga keterampilan (skill) masyarakat yang mampu memberikan keyakinan terkait lembaga keuangan yang dipakainya sekaligus dari berbagai produk di dalamnya dalam indeks tententu.

Namun, beberapa ahli dalam bidang ekonomi memiliki pandangannya sendiri terkait literasi keuangan. Tokoh finansial Manurung menjelaskan bahwa literasi keuangan adalah sejenis perangkat pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membuat keputusan dan kebijakan yang efektif dengan memanfaatkan seluruh sumber daya keuangan yang dimilikinya.

Kita bisa saja sih menyederhanakan prinsip tersebut menjadi; dewasa dalam menggunakan keuangan.

Ada lagi tokoh keuangan namanya Mitchell, ia berpendapat bahwa literasi keuangan adalah cara mengukur kemampuan dan keterampilan setiap orang dalam menjalani berbagai informasi ekonomi yang didapatkannya. 

Dari keterampilan dan kemampuan tersebut, memungkinkan mereka untuk mampu mengambil keputusan dalam membuat perencanaan keuangan, akumulasi keuangan, hutang dan dana pensiunannya.

Dari dua tokoh di atas, kita ambil secara lebih sederhana lagi saja. Intinya adalah literasi keuangan itu sebuah keterampilan dan kemampuan seseorang dalam memahami pendistribusian uang dan kekayaan yang dimiliki menjadi beberapa tahap sesuai dengan kebutuhan.

Oleh karena itu, indikator literasi keuangan tidak bisa dibuat baku, karena layanan jasa keuangan biasanya mempunyai indikatornya sendiri untuk menilai kemampuan setiap nasabahnya. Tapi, contoh sederhana nya bisa diperhatikan dari perspektif setiap individu.

Pentingnya Apa Sih Literasi Keuangan?

Soal penting dan tidak penting mungkin bisa diperdebatkan, tapi bukankah kata pepatah jawa; kabeh kudu dingilmuni? (apapun yang kita lakukan harus didasari dengan ilmu) 

Literasi keuangan menjadi penting dan sangat diperlukan untuk mendukung berbagai fungsi ekonomi. Jadi, bila semakin banyak masyarakat yang sadar terkait produk dari jasa keuangan, maka akan semakin meningkat pula transaksi keuangan yang terjadi di masyarakat, kemudian akhirnya akan mampu meningkatkan pergerakan roda perekonomian. 

Semakin banyak pergerakan roda perekonomian mempunyai efek ekonomi secara regional, nasional hingga global.

Oleh sebab itu, literasi keuangan juga memiliki dampak yang sangat besar pada perekonomian. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah penduduk yang sadar akan produk dan jasa keuangan yang selanjutnya disertai dengan peningkatan pemanfaatan produk dan jasa keuangan, sehingga mampu menggerakan roda perekonomian menjadi lebih cepat.

Ada satu artikel menarik yang pernah ditulis oleh Udonquak tahun 2010 menyatakan bahwa dalam kelangsungan pertumbuhan ekonomi sangat dibutuhkan tingkat literasi keuangan yang tinggi karena tingkat jumlah penggunaan produk dan jasa keuangan yang tinggi akan mampu menstimulasi permintaan pada produk dan jasa keuangan secara berkelanjutan.

Tak hanya Udonquak, Mukalengen di tahun 2013 yang dilaporkan bahwa literasi keuangan adalah salah satu kunci utama dari perkembangan ekonomi dalam suatu negara. 

Itu artinya, masyarakat memerlukan tingkat literasi keuangan yang baik agar mereka mampu mengelola keuangannya secara dewasa dan mampu meningkatkan pendapatannya agar tidak dihabiskan secara mudah pada berbagai hal yang sifatnya konsumtif, tapi digunakan investasi yang nilainya lebih produktif. 

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa rasio pemanfaatan produk dan jasa keuangan oleh masyarakat Indonesia masih rendah hanya sekitar 38% penduduk Indonesia yang melek literasi keuangan. Itupun bertingkat-tingkat literasi keuangannya, tidak hanya di satu level. 

Bahkan, dilaporkan bahwa setiap 100 penduduk Indonesia, hanya 46 orang saja yang mempunyai rekening bank. Sedangkan untuk pemilik polis pada asuransi jiwa hanya 15 orang dari setiap produknya.

Sementara itu, masyarakat yang menggunakan jasa perusahaan pembiayaan atau multifinance pun masih dinilai terbatas, yakni 7 dari setiap 100 masyarakat Indonesia. Sedangkan untuk masyarakat yang menggunakan dan mempunyai dana pensiun, hanya 1 dari setiap 100 penduduk saja. 

Jumlah yang lebih sedikit lagi ditemukan pada masyarakat yang menjadi investor di pasar modal, tercatat hanya 0,15 orang saja di pasar modal. Sedikit bukan?

Dari berbagai data di atas, bisa kita simpulkan bahwa seluruh masyarakat indonesia memang masih belum mempunyai tingkat literasi yang cukup atau tinggi. Padahal, perkembangan per kapita di negara ini wajib diiringi dengan literasi keuangan yang signifikan.

Data-data di atas menunjukkan kepada kita semua bahwa secara umum masyarakat Indonesia masih belum memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi atau memadai. Sehingga untuk menumbuhkan sektor ekonomi nasional masih harus menggunakan effort yang lebih besar. 

Peningkatan pendapatan per kapita masyarakat harus diimbangi dengan pemberian edukasi yang memadai agar tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap industri jasa keuangan juga semakin meningkat.

Setelah mengetahui alasan-alasannya, kita bergeser sedikit tentang manfaat literasi keuangan, baik secara individu, maupun secara nasional.

Manfaat Literasi Keuangan

Literasi keuangan yang baik terdapat manfaat jangka yang panjang untuk setiap individu. Kita bisa menyiapkan dana pendidikan anak, dana darurat, hingga dana pensiun.

Tercatat ada dua manfaat jangka panjang yang bisa didapatkan, yakni pertama meningkatkan literasi yang dimiliki sebelumnya atau less literate menjadi well literate, serta kedua, meningkatkan jumlah penggunaan produk atau layanan jasa keuangan.

Selain bermanfaat untuk jangka panjang, literasi keuangan juga mampu membuat seseorang mengelola dan juga mengambil setiap peluang untuk bisa mendapatkan kehidupan yang lebih sejahtera di masa depan. 

Selain itu, literasi keuangan juga mampu membantu setiap individu dalam membuat keputusan utamanya yang berkaitan dengan pengambilan keputusan untuk berinvestasi ataupun menabung.

Jadi, berdasarkan manfaat tersebut di atas, masyarakat secara individu terbukti mampu menunjukkan layanan jasa keuangan dan produk di dalamnya yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Nantinya, masyarakat juga akan memahami manfaat dan juga risiko yang terjadi dalam memanfaatkan jasa keuangan. 

Pemahaman manfaat dan risiko ini menjadi modal besar untuk melangkah lebih baik demi tujuan finansial di masa depan. 

Tingkat Literasi Keuangan

Tingkatan ini lebih teknis istialah-istilah yang dipakai, jadi kalau memang tidak begitu membutuhkan bisa dilewati saja. 

Terdapat berbagai tingkatan literasi keuangan untuk menilai dan mengukur seberapa baik literasi keuangan yang dikuasai oleh seseorang. 

Berikut ini adalah 4 tingkatan literasi keuangan berdasarkan yang dikeluarkan oleh OJK.

1. Well Literate

Kondisi ini apabila ada seseorang yang berada pada tingkatan ini, maka orang tersebut  mempunyai pengetahuan sekaligus keyakinan terkait lembaga jasa keuangan. Selain itu, orang tersebut juga sudah mengenal produk dan jasa keuangan di dalamnya.

Jadi, orang tersebut paham betul akan fitur, manfaat, risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan. Mereka juga mempunyai kemampuan baik untuk memanfaatkan produk serta jasa keuangan yang ada di berbagai lembaga.

2. Sufficient Literate

Tingkatan ini, ketika seseorang mempunyai pengetahuan dan juga keyakinan terkait lembaga jasa keuangan dan produk dari jasa keuangan. Selain itu, orang tersebut juga sudah mengenal fitur, manfaat, risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan. Perbedaan dengan tingkatan well literate adalah kekurangan keyakinan terhadap produk dan jasa keuangan. 

3. Less Literate

Mereka yang berada pada tingkatan ini hanya memiliki pengetahuan terkait lembaga jasa keuangan dan produk serta jasa keuangan saja.

4. Not Literate

Mereka yang tergolong pada tingkatan ini dinilai tidak mempunyai pengetahuan yang baik serta keyakinan terhadap lembaga jasa keuangan dan produk serta jasa keuangan.

Empat Aspek Literasi Keuangan Menurut Chen dan Volpe

Berikut ini adalah berbagai aspek dalam literasi keuangan berdasarkan Chen dan Volpe. Aspek literasi keuangan ini berkaitan dengan sejauh mana pemahaman dan praktik penggunaan uang bagi seseorang sehingga bisa disebut sebagai orang yang sudah mempunyai literasi keuangan.

1. Pemahaman Pengetahuan Dasar Tentang Keuangan Pribadi

Aspek pertama pada literasi keuangan adalah memahami beberapa hal yang erat kaitannya dengan pengetahuan dasar tentang finansial pribadi.

2. Tabungan Dan Pinjaman

Aspek kedua pada literasi keuangan adalah berkaitan dengan pinjaman dan tabungan, seperti misalnya penggunaan kartu kredit.

3. Asuransi

Aspek selanjutnya dalam literasi keuangan adalah pengetahuan dasar pada asuransi dan berbagai produknya, seperti asuransi kesehatan, asuransi jiwa, kendaraan, dll.

4. Investasi

Aspek terakhir pada literasi keuangan adalah pengetahuan terkait investasi, seperti pengetahuan tentang risiko investasi, sukuk bunga pasar, dll.

Empat aspek di atas, jika sudah dipahami dan disadari pentingnya hal tersebut, maka orang tersebut sudah bisa dikatakan sebagai orang yang mempunyai literasi keuangan yang cukup mahir. bisa disebut well literate.

Penerapan Literasi Keuangan

Hmm. Soal ini saya sendiri minder. Di sekolah tingkat apa sih kita itu diajari pentingnya soal literasi keuangan ini? Kita lihat coba di Amerika ya.

Dalam negara maju seperti halnya Amerika, pihak pemerintah turut serta dan andil dalam mengimplementasikan pendidikan literasi keuangan mulai dari anak-anak sekolah dasar.

Jadi, anak-anak tersebut akan diberikan panduan terkait cara mengelola uang yang sudah mereka terima dari uang sakunya masing-masing. Lantas, mereka akan diarahkan untuk selalu mampu menyimpannya pada berbagai kas yang berbeda, seperti kas membeli mainan, kas membeli makanan dan minuman, atau kas tabungan.

Dari perbedaan kas-kas tersebut, anak-anak akan memahami tentang pentingnya membuat alokasi keuangan yang jelas, agar kebutuhan dirinya tidak terabaikan.

Adanya tingkat disiplin yang tinggi dan administrasi yang tertib, anak-anak di atas tidak akan lagi membelanjakan uang yang ada di dalam salah satu kasnya untuk keperluan yang di luar dari kotak kas tersebut.

Bagus ya? Diajari mulai dari kecil sehingga ketika dewasa tidak terbiasa menyia-nyiakan uang untuk keperluan yang tidak semestinya.

Oke, itu saja ya tentang pentingnya literasi keuangan, semoga tulisan-tulisan selanjutnya bisa membahas hal-hal yang lebih teknis dari ini. Jika kalian mempunyai pendapat yang lain atau punya pengalaman tentang literasi keuangan, bisa bagikan di kolom komentar ya. 

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis