Menu

Mode Gelap
 

Biografi · 16 Okt 2021 15:12 WIB ·

Muhammad Yasin Al-Fadani Biografi Lengkap


 Muhammad Yasin Al-Fadani Biografi Lengkap Perbesar

JIGANG.ID – Muhammad Yasin al-Fadani biografi lengkap. Selain nama tersebut, orang-orang mengenalnya dengan nama pendek Syekh Yasin Padang. Al-fadani memang terambil dari kata Padang, namun dalam alvabet arab tidak mengenal P, jadilah terganti dengan F. Padang menjadi Fadan.

Kelahiran

Syekh Muhammad Yasin Bin Muhammad Isa Al-Fadani dalam bahasa Arab biasanya tertulis: محمد ياسين بن محمد عيسى الفاداني‎, 17 Juni 1915 – 20 Juli 1990)

Ia adalah seorang ahli sanad hadist, ilmu falak, bahasa Arab, dan pendiri Madrasah Darul Ulum al-Diniyyah di Mekkah. Ia merupakan putra ulama terkenal, Syekh Muhammad Isa Al-Fadani asal Padang, Sumatra Barat. Penisbatan al-Fadani terambil dari nama daerah asalnya yaitu Padang Sumatera Barat.

Rihlah Ilmiyyah Syaikh Yasin Padang

Syekh Yasin Padang memulai perjalanan intelektualnya dengan berguru kepada ayahnya sendiri, yaitu Syekh Muhammad Isa. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di Madrasah Al-Shaulatiyah. Karena guru-guru asal India menghina para pelajar Indonesia, maka ia mendirikan Madrasah Darul Ulum al-Diniyyah, dan menamatkan pendidikannya di sekolah ini.

Setelah menjalani pendidikan formal, ia berpindah-pindah untuk berguru ke beberapa ulama Timur Tengah. Di samping menimba ilmu, ia aktif mengajar dan memberi kuliah di Masjidil Haram dan madrasah yang didirikannya. Ia mengajar terutama pada mata kuliah ilmu hadist. Dia merupakan seorang ulama yang kukuh pada ajaran Ahlul Sunnnah wal Jamaah.

Selain aktif mengajar, ia juga rajin menulis kitab. Jumlah karyanya mencapai 97 buku, diantaranya 9 buku tentang ilmu hadist, 25 buku tentang ilmu dan ushul fiqih, serta 36 buku tentang ilmu falak, namun yang berhasil terselamatkan manuskripnya tidak semuanya.

Buku-bukunya banyak dibaca oleh para ulama dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Arab Saudi maupun di Asia Tenggara. Kitabnya yang paling terkenal: Al-Fawaid al-Janiyyah, menjadi materi silabus dalam mata kuliah ushul fiqih di Fakultas Syariah Al-Azhar Kairo.

Karya-karya Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani

  • Al-Durr al-Mandlud Syarh Sunan Abi Dawud, 20 Juz
  • Fath al-‘Allam Syarh Bulugh al-Maram, 4 jilid
  • Nayl al-Ma’mul ‘ala Lubb al-Ushul wa Ghayah al-wushul
  • Al-Fawaid al-Janiyyah Ala Qawa’idil Al-Fiqhiyah
  • Jam’u al-Jawani
  • Bulghah al-Musytaq fi ‘Ilm al-Isytiqaq
  • Idha-ah an-Nur al-Lami’ Syarh al-Kaukab as-Sathi’
  • Hasyiyah ‘ala al-Asybah wan an-Nazhair
  • Ad-Durr an-Nadhid
  • Bulghyah al-Musytaq Syarh al-Luma’ Abi Ishaq
  • Tatmim ad-Dukhul Ta’liqat ‘ala Makhdal al-Wushul ila ‘Ilm al-Ushul
  • Nayl al-Ma’mul Hasyiyah ‘ala Lubb al-Ushul wa syarhih Ghayah al-Wushul
  • Manhal al-Ifadah
  • Al-Fawaid al-Janiyyah Hasyiyah ‘ala al-Qawaid al-Fiqhiyyah
  • Janiyy ats-Tsamar Syarh Manzhumah Manazil al-Qamar
  • Mukhtashar al-Muhadzdzab fi Istikhraj al-Awqat wa al-Qabilah bi ar-Rubi’i al-Mujib
  • Al-Mawahib al-Jazilah syarh Tsamrah al-Washilah fi al-Falaki
  • Tastnif al-Sami’i Mukhtashar fi Ilmi al-Wadh’i
  • Husn ash-Shiyaghah syarh kitab Durus al-Balaghah
  • Risalah fi al-Mantiq
  • Ithaf al-Khallan Tawdhih Tuhfah al-Ikhwan fi ‘Ilm al-Bayan
  • Ar-Risalah al-Bayaniyyah ‘ala Thariqah as-Sual wa al-Jawab
  • Al-Ujalah fi al-Ahadith al-Musalsalah

Keluarga dan Putra Syaikh Yasin al-Fadani

Al-Fadani meninggalkan satu orang istri dengan empat orang putra yaitu

  1. Muhammad Nur ‘Arafah
  2. Fahad
  3. Ridha dan
  4. Nizar.

Informasi tersebut terdapat di laman wikipedia ensiklopedi bebas.

Dar al-‘Ulum al-Diniyyah dan NU

Sebagaimana yang sudah tertulis di atas bahwa Syaikh Yasin al-Fadani adalah anak dari Syaikh Isa al-fadani yang  merupakan pendiri Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyyah.

Gus Ulil (Sapaan akrab Muhammad Ulil Abshar Abadalla) menuliskan bahwa Madrasah Dar al-‘Ulum al-Diniyyah pada 1934. Ada sekitar 120 santri Jawa (istilah Jawa saat itu mencakup seluruh kawasan Indonesia, Melayu, bahkan juga Thailand Selatan) yang pindah ke madrasah baru itu, termasuk Syekh Yasin sendiri.

Belakangan, Syekh Yasin menjadi mudir atau direktur madrasah tersebut hingga dia wafat pada 1990.

Semasa dia masih hidup, banyak jamaah haji Indonesia yang selalu menyempatkan mampir di madrasah itu. Syekh Yasin juga memelihara relasi dengan sejumlah kiai di Indonesia, bahkan menuliskan semacam “thabaqat/tarajum” atau biografi sejumlah kiai di tanah air.

Dia sempat hadir dalam Muktamar NU ke-26 di Semarang pada 1979. Pada kesempatan itulah dia menyempatkan diri untuk mengunjungi sejumlah pesantren di Jawa Tengah, antara lain pesantren KH. Muhammadun, dari Pondohan, Tayu, Pati.

Konon Syekh Yasin menulis tarjamah atau biografi singkat Kiai Muhammadun menurut tradisi thabaqat yang kita kenal dalam khazanah historiografi Islam klasik.

Syaikh Yasin sebagai Benteng Aswaja

Masih menurut tulisan Gus Ulil, di kalangan santri Indonesia, Syekh Yasin terkenal sebagai “benteng” doktrin Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah di tanah haramain berhadapan dengan kampanye agresif ideologi Wahabi yang disokong oleh pemerintah Saudi. Salah satu bukunya yang dikenal di kalangan pesantren adalah al-Fawa’id al-Janiyyah yang berisi ulasan mengenai kaidah fikih (qawa’id al-fiqh).

Informasi dari Martin van Bruinessen ini menarik karena memperlihatkan sosok Syekh Yasin bukan saja sebagai seorang alim yang mempertahankan doktrin Sunni di tanah haramain, tetapi juga seorang nasionalis yang memiliki kecintaan pada tanah air.

Tahun saat madrasah Dar a-‘Ulum itu berdiri, yakni 1934, jelas merupakan periode di mana gerakan-gerakan nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan di tanah air sedang mencapai tahap kematangan.

Dengan demikian, kita patut mengenang Syekh Yasin sebagai seorang patriot yang cinta tanah air Indonesia, selain sebagai seorang muhaddits(pakar hadis), dan faqih (ahli mengenai hukum Islam). Hal ini juga memperlihatkan dengan baik sekali bahwa tidak ada pertentangan antara aspirasi nasionalisme dengan ajaran Islam.

Kecintaan pada tanah air yang diperlihatkan oleh seorang alim dengan kaliber seperti Syekh Yasin tentu cukup menjadi bukti bahwa Islam dan nasionalisme bukanah dua hal yang harus dipertentangkan. Semangat inilah yang kemudian dipertahankan oleh Nahdlatul Ulama (NU) hingga sekarang — semangat cinta tanah air.

Semangat ini makin relevan untuk digaungkan kembali saat ini di tengah-tengah ramainya sejumlah gerakan Islam yang hendak mendirikan negara khilafah akhir-akhir ini.

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Abu Hasyim As-Shufi, Orang Pertama Bergelar Sufi

22 Oktober 2021 - 19:50 WIB

Sahabat Nabi Muhammad

Abdullah bin Umar Periwayat Hadis Terbanyak Setelah Abu Hurairah

20 Oktober 2021 - 06:15 WIB

Sahabat Nabi Muhammad

KH Maimun Zubair Biografi Lengkap

16 Oktober 2021 - 06:36 WIB

Biografi KH Maimun Zubair

Biografi Pengarang Maulid Simthudduror dan Sejarahnya

1 Agustus 2021 - 00:00 WIB

Biografi KH. Ahmad Qusyairi Pasuruan

5 April 2021 - 01:10 WIB

Dua Pendekar Ulama; Mbah Sahal dan Mbah Mun Zubair

21 Desember 2020 - 07:26 WIB

Trending di Biografi