Menu

Mode Gelap
 

Kolom · 17 Okt 2020 03:40 WIB ·

Kelompok dan Aliran dalam Sejarah Umat Islam


 Kelompok dan Aliran dalam Sejarah Umat Islam Perbesar

Penulis: Fatkha Apri Cahyanti

Sebelum masuk pada pembahasan inti, kita perlu tahu apa itu Islam? Islam menurut bahasa artinya keselamatan, kesejahteraan.

Ketuhanan dan kemanusiaan adalah dua komponen utama dalam islam. Konsep ketuhanan tidak mesti sama dengan Dzat Tuhan sendiri. Disini dapat dikatakan tafsir sebagai konsep kemanusiaan dan Al-Qur’an sebagai konsep ketuhanan. Al Qur’an bersifat qoth’i atau pasti, sedangkan tafsir bersifat dzanni.

Sebagai seorang muslim, kita harus berusaha untuk ‘”memahami’’ kehendak Allah dalam Al-Qur’an, yang diantaranya, Insaniyah; yaitu hukum Allah yang mengatur kehidupan manusia, zakat, dan waris. Kauniyah; bisa disebut juga sunatullah. Yaitu seluruh eksistensi yang ada di alam raya adalah berpasangan. Akidah; yaitu tanda kebesaran Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Seperti tauhid, akhlak.

Selama 23 tahun, Nabi merubah tradisi jahiliyah menjadi islamiyah. Usaha-usaha yang dilakukan Nabi diantaranya menghancurkan berhala, mengentaskan kemiskinan, membagi warisan dengan adil, menegakkan hukum dengan adil, mengangkat derajat perempuan, dan lain sebagainya.

Nilai kemanusiaan menjadi dasar ajaran dalam dakwah Nabi dengan tetap berpedoman pada Al-Qur’an. Selain itu, Nabi juga membentuk masyarakat Madinah yang berlandaskan keadilan sehingga kaum Yahudi dan Nasrani bersatu membangun Madinah.

Tahun-tahun berlalu, sampai pada suatu masa dimana Rasulullah wafat. Beliau wafat tanpa meninggalkan wasiat. Kondisi ini mmebuat para sahabat bingung, sehingga terjadi musyawarah untuk membahas siapa pemimpin pengganti Rasulullah.

Dari hasil musyawarah terjadilah mufakat, terpilihlah Abu Bakar As-Shiddiq sebagai pengganti Rasulullah. Abu bakar dalam menjadi khalifah/pengganti Rasulullah sangat berjasa, diantaranya mengumpulkan mushaf Al-Qur’an atas usulan dari sayyidina Ali, membuat kebijakan pemerataan pembagian zakat dengan cara mensensus masyarakat Makkah dan Madinah dengan membuat Baitul Maal. Abu bakar memiliki data masyarakat misikin Makkah dan Madinah, sehingga zakat bisa tersalurkan dengan tepat. Beliau juga memerangi orang murtad dan Nabi-nabi palsu serta pembangkang khalifah.

Setelah Abu Bakar wafat, kepemimpinan digantkan oleh Umar bin Khattab. Sayyidina Umar tidak mau dirinya disebut sebagai khalifah Rasul karena beliau sadar dulunya pernah memerangi Nabi. Maka, sayyidina Umar disebut sebagai amirrul mukminin atau ketua orang muslim.

Saat Umar memimpin, wilayah kekuasaan islam meluas luar biasa hingga ke negara metropolitan seperti Suriah, Irak, Persia, Mesir, dan Tripoli. Abu bakar adalah pemimpin yang sederhana. Sebelum beliau wafat, beliau membuat tim formatur yang terdiri dari Ali, Usman, Zubair, Talhah, Sa’ad.

Khalifah selanjutnya setelah sayyidina Umar adalah Usman Bin Affan. Beliau berkontribusi dalam penyalinan dan penyusunan Al-Qur’an yang dikenal dengan Rasm Utsmani. Tetapi, dalam mempimpin, khalifah Usman dianggap nepotisme karena beliau mengangkat pejabat dari kalangan bani nya sendiri. Sehingga banyak sekali terjadi pemberontakan karena umat merasa tidak puas dengan kepemimpinannya.

Umar bin Khattab wafat, terbunuh dan digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Ali memerintah selama 5 tahun. Para pendukung Ali berada di Kuffah, sehingga Ali memindahkan ibu kota dari Madinah ke Kuffah. Saat Ali berkuasa, terjadi dua perang besar yang tercatat sejarah; perang Jamal (antara Ali dan Aisyah) dan perang Shiffin.

Perang Shiffin terhadi pada 25 Juli 657 M. Perang ini di latar belakangi oleh tuntutan Muawiyyah dalam mengusut tuntas kasus pembunuhan khalifah Usman. Ia memprovokasi di masjid Damaskus dengan membawa baju Usman yang terkena bercak darah dan potongan jari Nailah (istri sayyidina Usman) yang putus ketika melindungi Usman.

Saat perang Shiffin, Ali membawa 5.000 pasukan dari Iraq. Sedangkan, Muawiyyah membawa tentara Suriah. Perang berkecamuk, kubu Muawiyyah hampir kalah, disaat itu Amr Bin Ash meletakan salinan Al-Qur’an di ujung tombak sebagai tanda mengakhiri perang. Setelah itu terjadilah peristiwa tafkhim. Sayyidina Ali menunjuk Abu Musa Al-Asy’ari sebagai jubir, sedangkan Muawiyyah menunjuk Amr bin Ash.

Peristiwa tafkhim terjadi pada Januari 659 M. Tafkhim berada di Adhruh, jalan utama Madinah-Damaskus. Tafkhim dihadiri 400 orang saksi dari kedua belah pihak. Hasil dari tafkhim adalah hakim memecat jabatan khalifah dari kedua belah pihak, Muawiyyah maupun Ali.

Ali menuai kerugian kehilangan pendukungnya. Para kaum pembelot disebut khawarij dengan sejumlah 4.000 pasukan yang dipimpin oleh Abdullah bin Wahab Ar-Rasibi. Di tepi kanah Nahrawan, pasukan Ali menyerang khawarij.

Khawarij merupakan kelompok pertama dalam Islam yang secara tegas menggunakan dalil Al-Qur’an, berslogan ‘’La hukma Illa Allah’’. Menurut kaum khawarij, para pendukung Ali dan Muawiyyah adalah kafir, sebab dianggap tidak sesuai dengan nash Al-Qur’an.

Pada tahun 661 M, Ali wafat ditangan pengikut khawarij yaitu Abdurrahman bin Muljam. Ia terkena hantaman pedang di kepala ketika perjalanan menuju masjid Kuffah.

Ada beberapa gerakan agama pada masa Dinasti Umayyah, diantaranya

Syiah, merupakan pengikut dari Sayyidina Ali, gerakan ini selalu mendapatkan intimidasi dari penguasa Umayyah hingga Abasyyiah.

Murjiah, dipimpin oleh Imam Abu Hanifah, kelompok ini berpandangan bahwa yang memberikan segala putusan adalah Allah.

Qodariyah merupakan paham filosofis yang berpengaruh di masa Umayyah, Muawiyyah II dan Yazid III merupakan penganut paham ini.

Muktazilah, didirikan oleh Washil bin Atha’, ia sebelumnya murid dari Haasan Al Bashri yang berpaham qodariyah. Kelompok ini berpendapat bahwa Al-Quran adalah makhluk dan tidak qodim karena hanya Allah lah yang qadim.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Roti Khong Guan dan Santri yang Membaca al-Quran tapi Tidak Paham Maknanya

5 Agustus 2021 - 00:00 WIB

Pentingnya Khidmah Ndalem dan Pesantren Bagi Seorang Santri

2 Agustus 2021 - 00:00 WIB

Sejarah Puasa Ramadhan

11 April 2021 - 15:34 WIB

Kisah Habib Ali Al-Jufri Menyesal karena Poligami

9 April 2021 - 11:58 WIB

Habib ali al-Jufri

Mengucapkan Kata Sayyidina Dalam Tasyahud

9 April 2021 - 02:19 WIB

Konstruksi Sosial dan Alasan Perempuan Jadi Teroris

6 April 2021 - 08:32 WIB

Trending di Kolom