Menu

Mode Gelap
 

Artikel · 18 Okt 2021 07:05 WIB ·

6 Syarat Sah Melaksanakan Shalat Jumat


 6 Syarat Sah Melaksanakan Shalat Jumat Perbesar

JIGANG.ID – Syarat sah shalat jumat merupakan hal penting yang harus diketahui oleh orang muslim. Sebab hal itu bisa menentukan sah dan tidaknya shalat jumat.

Prolog

Hari jumat merupakan hari istimewa bagi umat islam. Tak heran bila pada hari jumat banyak sekali amalan-amalan yang seharusnya dilakukan oleh umat muslim agar mendapatkan keberkahannya. Salah satunya adalah membaca surat al-Kahfi. Keutamaan tersebut bisa dibaca pada artikel berjudul 7 Keutamaan Surat al-Kahfi ketika dibaca di hari jumat.

Apabila masih ada yang kurang memahami tentang istilah syarat dan rukun dari sisi perbedaannya, baca juga artikel berjudul Perbedaan Syarat dan Rukun dalam Ibadah.

Terdapat banyak sekali artikel yang menuliskan tentang syarat sahnya shalat jumat, namun di sini akan mencantumkan salah satu saja, sebab artikel ini yang paling kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan. Di dalamnya terdapat sumber-sumber yang otoritatif dengan referensi yang jelas.

Artikel yagn dimaksud adalah dari situs NU Online. yang berjudul Enam Syarat Sahnya Shalat Jumat.

Enam Syarat Sah Shalat Jumat

Seperti ibadah-ibadah lainnya, shalat Jumat memiliki beberapa ketentuan atau syarat keabsahan yang harus dipenuhi. Sekiranya tidak terpenuhi, maka shalat Jumat dihukumi tidak sah.

Berikut ini adalah syarat-syarat sah pelaksanaan shalat Jumat:

Shalat Jumat dan kedua kutbahnya dilakukan di waktu zhuhur.

Hal ini berdasarkan hadits:

  أَنَّ النَّبِيَّكَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ

“Sesungguhnya Nabi Saw melakukan shalat Jumat saat matahari condong ke barat (waktu zhuhur)”. (HR.al-Bukhari dari sahabat Anas).

Maka tidak sah melakukan shalat Jumat atau khutbahnya di luar waktu zhuhur. Bila waktu Ashar telah tiba dan jamaah belum bertakbiratul ihram, maka mereka wajib bertakbiratul ihram dengan niat zhuhur.

Apabila di tengah-tengah melakukan shalat Jumat, waktu zhuhur habis, maka wajib menyempurnakan Jumat menjadi zhuhur tanpa perlu memperbaharui niat.

Syekh Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:

  فَلَوْضَاقَ الْوَقْتُ أَحْرَمُوْا بِالظُّهْرِ وَلَوْ خَرَجَ الْوَقْتُ وَهُمْ فِيْهَا أَتَمُّوْا ظُهْراً وُجُوْباً بِلَا تَجْدِيْدِ نِيَّةٍ

“Apabila waktu zhuhur menyempit, maka wajib melakukan takbiratul ihram dengan niat zhuhur. Apabila waktu zhuhur keluar sementara jamaah berada di dalam ritual shalat Jumat, maka mereka wajib menyempurnakannya menjadi shalat zhuhur tanpa mengulangi niat”. (Syekh Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal.236)

Dilaksanakan di area pemukiman warga.

Shalat Jumat wajib dilakukan di tempat pemukiman warga, sekiranya tidak diperbolehkan melakukan rukhsah shalat jama’ qashar di dalamnya bagi musafir. Tempat pelaksanaan Jumat tidak disyaratkan berupa bangunan, atau masjid. Boleh dilakukan di lapangan dengan catatan masih dalam batas pemukiman warga.   Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengatakan:

  وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُعْقَدَ الْجُمُعَةُ فِي رُكْنٍ أَوْ مَسْجِدٍ بَلْ يَجُوْزُ فِي الصَّحْرَاءِ إِذَا كاَنَ مَعْدُوْداً مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ فَإِنْ بَعُدَ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ يَتَرَخَّصُ الْمُسَافِرُ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ لَمْ تَنْعَقِدْ اَلْجُمُعَةُفِيْهَا

“Jumat tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil rukhshah di tempat tersebut, maka Jumat tidak sah dilaksanakan di tempat tersebut”. (al-Ghazali, al-Wasith, juz.2, hal.263, [Kairo: Dar al-Salam], cetakan ketiga tahun 2012).

Rakaat pertama Jumat harus dilaksanakan secara berjamaah.

Minimal pelaksanaan jamaah shalat Jumat adalah dalam rakaat pertama, sehingga apabila dalam rakaat kedua jamaah Jumat niat mufaraqah (berpisah dari Imam) dan menyempurnakan Jumatnya sendiri-sendiri, maka shalat Jumat dinyatakan sah.

Keempat, jamaah shalat Jumat adalah orang-orang yang wajib menjalankan Jumat.

Jamaah Jumat yang mengesahkan Jumat adalah penduduk yang bermukim di daerah tempat pelaksanaan Jumat. Sementara jumlah standar jamaah Jumat adalah 40 orang menghitung Imam menurut pendapat kuat dalam mazhab Syafi’i.

Menurut pendapat lain cukup dilakukan 12 orang, versi lain ada yang mencukupkan 4 orang.   Al-Jamal al-Habsyi sebagaimana dikutip Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:

قَالَ الْجَمَلُ الْحَبْشِيُّ فَاِذَا عَلِمَ الْعَامِيُّ أَنْ يُقَلِّدَ بِقَلْبِهِ مَنْ يَقُوْلُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ بِإِقَامَتِهَا بِأَرْبَعَةٍ أَوْ بِاثْنَيْ عَشَرَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ إِذْ لَا عُسْرَ فِيْهِ

“Berkata Syekh al-Jamal al-Habsyi; Bila orang awam mengetahui di dalam hatinya bertaklid kepada ulama dari ashab Syafi’i yang mencukupkan pelaksanaan Jumat dengan 4 atau 12 orang, maka hal tersebut tidak masalah, karena tidak ada kesulitan dalam hal tersebut”. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, hal.18).

Tidak termasuk jamaah yang mengesahkan Jumat yaitu orang yang tidak bermukim di daerah pelaksanaan Jumat, musafir dan perempuan, meskipun mereka sah melakukan Jumat.

Kelima, tidak didahului atau berbarengan dengan Jumat lain dalam satu desa

Dalam satu daerah, shalat Jumat hanya boleh dilakukan satu kali.

Oleh karenanya, bila terdapat dua Jumatan dalam satu desa, maka yang sah adalah Jumatan yang pertama kali melakukan takbiratul ihram, sedangkan Jumatan kedua tidak sah. Dan apabila takbiratul ihramnya bersamaan, maka kedua Jumatan tersebut tidak sah.

Hal ini bila tidak ada kebutuhan yang menuntut untuk dilaksanakan dua kali. Bila terdapat hajat, seperti kedua tempat pelaksanaan terlampau jauh, sulitnya mengumpulkan jamaah Jumat dalam satu tempat karena kapasitas tempat tidak memadai, ketegangan antar kelompok dan lain sebagainya, maka kedua Jumatan tersebut sah, baik yang pertama maupun yang terakhir.

Syekh Abu Bakr bin Syatha’ mengatakan:

  وَالْحَاصِلُ أَنَّ عُسْرَ اجْتِمَاعِهِمْ اَلْمُجَوِّزَ لِلتَّعَدُّدِ إِمَّا لِضَيْقِ الْمَكَانِ اَوْ لِقِتَالٍ بَيْنَهُمْ اَوْ لِبُعْدِ أَطْرَافِ الْمَحَلِّ بِالشَّرْطِ

“Kesimpulannya, sulitnya mengumpulkan jamaah Jumat yang memperbolehkan berbilangannya pelaksanaan Jumat adakalanya karena faktor sempitnya tempat, pertikaian di antara penduduk daerah atau jauhnya tempat sesuai dengan syaratnya”. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, hal.4).

Keenam, didahului kedua khutbah.

Sebelum shalat Jumat dilakukan, terlebih dahulu harus dilaksanakan dua khutbah. Hal ini berdasarkan hadits Nabi:

  أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِسُ ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا

“Rasulullah Saw berkhutbah dengan berdiri kemudian duduk, kemudian berdiri lagi melanjutkan khutbahnya”. (HR. Muslim).

Penutup

Itulah 6 hal syarat shalat jumat ketika melaksanakan shalat jumat. Semoga artikel ini bermanfaat.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dalil untuk Cara Menghilangkan Najis Air Madzi

3 November 2021 - 13:22 WIB

air madzi lengket

Hukum Air Madzi

1 November 2021 - 20:21 WIB

air madzi lengket

Plagiasi dalam Sejarah Islam Kisah tentang as-Suyuthi

30 Oktober 2021 - 06:59 WIB

maulid

Adab Lebih Utama daripada Menjalankan Perintah

29 Oktober 2021 - 15:27 WIB

Nadhirsah Hosen

Abdullah bin Umar Periwayat Hadis Terbanyak Setelah Abu Hurairah

20 Oktober 2021 - 06:15 WIB

Sahabat Nabi Muhammad

Niat Sholat 5 Waktu Lengkap dengan Artinya

19 Oktober 2021 - 13:51 WIB

Sholat wajib
Trending di Fikih