Menu

Mode Gelap
 

Akidah · 23 Okt 2019 00:00 WIB ·

5 Pokok Akidah al-Maturidi dan Perbedaannya dengan al-Asy’ari


 5 Pokok Akidah al-Maturidi dan Perbedaannya dengan al-Asy’ari Perbesar

Penulis Alwi Ridwan Hidayat

Setelah menjelaskan secara ringkas tentang pokok-pokok pemikiran akidah Abu Hasan Al-Asy’ari, kin gilirannya membahas tentang Abu Mansur Al-Maturidi.
Nama lengkapnya Imam abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi. Al-Maturidi adalah nisbat terhadap tempat kelahiran. Daerah Maturidi atau Maturiti terletak di kota Samarqandi. Seorang ahli sejarah, Dr. Ayub Ali mengatakan bahwa Imam Maturidi diperkirakan lahir tahun 238 H / 852 M.

Perjalanan selama mempelajari ilmu beliau berguru kepada ulama terkemuka, diantaranya; Abi Nasr Al-‘Iyadhi, kepada Abu Bakar Ahmad Al-Janzani (guru fiqh), Muhammad bin Muqatil Al-Razi, seorang ulama yang sangat rasionalis. 

Adapun ketiga guru beliau belajar fikih kepada Imam Abi Sulaiman bin Musa bin Sulaiman Al-Janzani dan ia belajar kepada dua imam, yakni Imam Abi Yusuf dan Muhammad bin Al Hasan.

Imam Al-Maturidi banyak dipengaruhi oleh pola pikir imam abu hanifah, yang banyak menggunakan rasio, tak heran dalam pandang teologinya beliau banyak menggunakan kekuatan akal. 

Demikian itu membuat Al-Maturidi memiliki paham yang sama dengan Al-Asy’ari, yakni sama-sama menentang paham Muktazilah. 
Berikut ini sebagian pandangan Imam Al-Maturidi dalam lingkup teologi; 
  1. Mengenai Alquran, ia sependapat dengan Al-asy’ari dan Abu Hanifah. Bahwa Kalam Allah adalah qadim. Al-Maturidi mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang qodim, tidak diubah, tidak diciptakan, tidak baru dan tidak ada permulaannya. 
  2. Mengenai sifat Allah SWT, terdapat kesamaan dengan Al-Asy’ary bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat, seperi adanya nash yang menunjukkan bahwa Allah menyifati diri-Nya dengan sifat mendengar dan sifat melihat. Dengan demikian itu Al-Maturidi berpendapat bahwa Tuhan mengetahui bukan dengan dzat-Nya tetapi dengan pengetahuannya, tetapi tidak seperti pengetahuan (al-‘Ulm).
  3. Masalah iman dan islam, Al-Maturidi berpendapat bahwa dalam beriman itu wajib dengan akal.
  4. Masalah melihat Allah SWT dan pelaku dosa besar, beliau sependapat dengan Al-Asy’ary.
  5. Masalah baik dan buruk, beliau lebih dekat kepada Muktazilah, bahwasannya akal mampu mengidentifikasi sesuatu yang baik dan yang buruk.

Ada beberapa pemikiran yang saling berbeda antara Imam Al-Maturidi dengan Imam Al-Asyary, di antaranya adalah; 

  1. Imannya orang yang taklid hukumnya sah, sedangkan imam Al-Asy’ary tidak sah.
  2. Makrifatullah wajib secara aqliyah, sedangkan Imam Al-Asy’ary wajib secara syariah,
  3. Perbuatan manusia adalah perbuatan hakiki, sedangkan Imam Al-Asy’ary berpendapat bahwa perbuatan manusia bersifat majazi, yang hakiki adalah dari Allah SWT.

Sumber Bacaan
A Fatih Syuhud, Ahlussunnah Wal Jama’ah Islam Wasathiyah Tasamuh dan Cinta Damai, Pustaka Alkhoirot, 2019

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Perbandingan Konsep Ketuhanan Mazhab Asyariyah dan Mu’tazilah

17 Agustus 2021 - 00:55 WIB

Tasawuf

Jalan Tengah Kerangka Berpikir Teologi Aliran Asyariyah

3 Agustus 2021 - 00:30 WIB

Memahami Al-Asy’ariyah Sebagai Salah Satu Madzhab Akidah Islam

5 Februari 2021 - 08:49 WIB

Khalifah

Rukun Islam Ada Lima, Jangan Sampai Lupa

22 November 2020 - 15:27 WIB

Sejarah Maulid Nabi

Bid’ah dan Faham Fatalisme: Penyebab Kemunduran Umat Islam

18 Januari 2020 - 23:00 WIB

5 Pokok Ajaran Abu Hasan al-Asy’ari

21 Oktober 2019 - 00:01 WIB

Trending di Akidah